Papuaekspose.com – Ibu Kota Papua Nugini, Port Moresby tengah mengalami kerusuhan parah, dikabarkan sedikitnya 15 orang dilaporkan tewas akibat insiden kerusuhan tersebut. Para warga mulai menggila dengan membakar toko-toko dan mobil, belum lagi tempat pusat perbelanjaan dijarah ketika ratusan orang turun ke jalan-jalan setelah polisi melakukan pemogokan gegara pemotongan gaji.

Gubernur Distrik Ibu Kota Nasional Papua Nugini, Powes Parkop, mengatakan dalam siaran radio bahwa aksi penjarahan dilakukan oleh kelompok “oportunis”.

Dia mengatakan pemerintah telah mengerahkan tentara untuk memulihkan situasi keamanan. Sampai Kamis (11/01) dilaporkan ada 15 orang tewas akibat kerusuhan ini.

Laporan lainnya menyebutkan setidaknya tujuh orang tewas di Kota Lae. Tingkat kekerasan yang terjadi di Kota Lae – kota terbesar kedua di Papua Nugini, belum jelas diketahui.

”MTQ

“Kami telah menyaksikan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya di kota kami, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kota dan negara kami,” ujar Parkop dalam pidato melalui radio, menurut laporan Reuters.

Dia menambahkan bahwa “beberapa orang sayangnya harus meregang nyawa hari ini”, meskipun ia tak menyebutkan jumlah korban yang meninggal dunia.

Kerusuhan ini pecah setelah polisi dan pegawai di sektor publik lainnya melancarkan aksi mogok di luar parlemen pada Rabu (10/01). Pasalnya gaji mereka telah dipotong hingga 50%.

Perdana Menteri (PM) Papua Nugini, James Marape mengatakan sekitar 100$ USD atau setara Rp1,5 juta telah dipotong dari gaji pegawai negeri, karena kesalahan pada komputer dan pemerintah tidak menaikkan pajak seperti yang diklaim oleh pengunjuk rasa.

“Media sosial menangkap informasi yang salah, informasi yang keliru,” kata Marape, menurut New York Times seraya menambahkan bahwa orang-orang mengambil keuntungan dari tidak adanya aparat kepolisian di jalanan.

Tayangan televisi memperlihatkan kerumunan orang dalam jumlah besar dan aksi penjarahan berlangsung di seluruh kota.

Sebuah pusat perbelanjaan mewah termasuk di antara gedung-gedung yang terbakar.

Petugas ambulans mengatakan mereka telah menangani beberapa korban luka tembak, sementara Kedutaan AS melaporkan adanya tembakan di dekat kompleks kedutaan.

Pada Rabu (10/01) malam, sebagian besar aksi kekerasan menurun eskalasinya ketika laporan awal mengenai jumlah kematian dikoreksi.

Kemudian pada Kamis (11/01), Australia, negara tetangga dan mitra keamanan utama Papua Nugini, mendesak adanya ketenangan di negara tersebut.

Marape, yang bertemu dengan pemimpin Australia bulan lalu, belum meminta bantuan kehadiran pasukan penjaga perdamaian dari negara itu.

Di tengah kemerosotan ekonomi di negaranya yang menyebabkan tingkat inflasi dan angka pengangguran ringgi, Marape menghadapi tekanan yang semakin besar. Pihak oposisi telah berupaya mengajukan mosi tidak percaya padanya.

Sejumlah analis mengatakan ketidakpuasan di masyarakat telah menyebabkan kerusuhan pada Rabu kemarin.

“Peristiwa yang terjadi hari ini di Port Moresby merupakan perwujudan dan ungkapan penderitaan ekonomi serta sosial yang dialami polisi, militer, dan pegawai publik lainnya di Papua Nugini. Serta seluruh pekerja dan masyarakat pada umumnya,” ujar analis PNG Think Tank, Samson Komati kepada Australian Broadcasting Corporation.