Papuaekspose.com – Semakin menjamurnya praktik judi online (judol) di tanah air membuat resah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Demi meredam praktik itu OJK mulai meminta perbankan agar ikut andil memberantas aktivitas judi online yang semakin marak.

Dimana salah satu upaya itu dengan membangun sistem untuk melacak aktivitas transaksi mencurigakan.

Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara dalam acara FGD redaktur media massa di Batam Provinsi Kepulauan Riau mengatakan, pihaknya terus meminta bank untuk membangun sistem, agar melihat transaksi-transaksi yang mencurigakan.

“Karena kan harus dibangun sistemnya. Aktivitas judi online merupakan salah satu aktivitas yang banyak diadukan oleh masyarakat kepada OJK. Maraknya aktivitas judol juga kerap menjadi perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi),” kata dia.

OJK juga, kata dia terus mendorong penanganan-penanganan pengaduan. Bapak/Ibu mungkin juga mencermati Presiden resah melihat judi online. Tentu itu juga menjadi kegelisahan kita semua.

Menurut dia, aktivitas pelacakan terhadap transaksi perbankan yang terkait judol tidak mudah. Hal itu karena nominal transaksi yang terkait judi online tidak selalu bernilai besar.

“Transaksinya mungkin hanya Rp 100.000, Rp 200.000, atau Rp 1 juta. Tapi kok menggunakan rekening itu, sering dipakai untuk tek-tokan. Karena itu harus dibangun sistemnya,” kata Mirza.

Ia mencontohkan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sudah memiliki sistem yang berjalan cukup lama, yakni yang mengharuskan perbankan melaporkan jika ada transaksi di atas Rp500 juta.

“Kalau judi online kan bukan transaksi Rp 500 juta, tapi kecil. Jadi ‘kan kalau kita mau bisa menelusuri itu, kalian harus mempunyai sistem yang bisa memantau pergerakan aneh-aneh di rekening kecil-kecil itu. Jadi, hal itu harus dibangun,” kata dia.

Menurut data OJK, kata Mirza, telah terdapat sekitar 5.000 rekening yang diblokir karena teridentifikasi digunakan terkait kegiatan judi online. Ia mengatakan industri jasa keuangan akan terus berupaya membantu pemberantasan judol.

“Jadi, sudah sekitar 5.000 rekening kami tutup, kami blokir. Upaya tentu tidak berhenti di situ, harus bisa di-tracing dana ini sebenarnya ke mana,” tandasnya.