Papuaekspose.com – Peluncuran rudal balistik Korea Utara kembali memicu ketegangan di Asia Timur. Pemerintah Jepang menyatakan bahwa uji coba rudal yang dilakukan Pyongyang pada 4 Januari 2026 menunjukkan indikasi penggunaan lintasan penerbangan yang tidak beraturan, sebuah karakteristik yang dinilai berpotensi meningkatkan risiko keamanan kawasan.

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan bahwa sedikitnya dua rudal balistik diluncurkan ke arah timur dari wilayah dekat pantai barat Korea Utara pada Jumat pagi. Peluncuran berlangsung dalam selang waktu sekitar satu jam, antara pukul 07.00 hingga 08.00 waktu setempat.

Kedua rudal tersebut diperkirakan jatuh di luar Zona Ekonomi Eksklusif Jepang. Pemerintah Jepang memastikan bahwa tidak ada laporan kerusakan, korban, maupun gangguan terhadap jalur pelayaran dan penerbangan sipil.

Koizumi menjelaskan bahwa rudal pertama mencapai ketinggian sekitar 50 kilometer dengan jarak tempuh sekitar 900 kilometer. Rudal kedua memiliki karakteristik serupa, namun dengan jarak terbang yang lebih jauh, yakni sekitar 950 kilometer.

Yang menjadi sorotan utama Jepang adalah dugaan penggunaan lintasan penerbangan yang tidak lazim. Menurut Koizumi, pola semacam ini dapat dirancang untuk menghindari sistem pertahanan rudal modern yang dimiliki negara-negara di kawasan.

Korea Utara sebelumnya diketahui mengembangkan rudal balistik jarak pendek dengan kemampuan manuver tinggi. Otoritas militer Korea Selatan menyebutkan bahwa uji coba sebelumnya melibatkan rudal KN-23 dan KN-25, yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan penetrasi pertahanan udara.

Jepang menilai peluncuran ini sebagai pelanggaran serius terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB. Koizumi menegaskan bahwa Jepang tidak akan mentoleransi tindakan provokatif yang dapat mengganggu stabilitas regional.

Sebagai respons, Jepang telah mengajukan protes resmi kepada Korea Utara melalui saluran diplomatik di Beijing dan meningkatkan koordinasi dengan Amerika Serikat serta Korea Selatan. Kerja sama ini difokuskan pada pertukaran data radar, pemantauan peluncuran, dan analisis ancaman.

Peluncuran tersebut merupakan yang pertama sejak November lalu dan menjadi sinyal awal aktivitas militer Korea Utara pada awal tahun 2026.

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook