Papuaekspose.com – Perayaan Natal tinggal beberapa hari lagi bagi umat Kristiani. Perayaan Natal dan Tahun Baru kali ini sedikit berbeda dengan perayaan-perayaan sebelumnya, karena bersamaan dengan pesta demokrasi lima tahunan Pemilu 2024.

Natal itu identik dengan pohon natal/pohon terang, Santa Clause dan warna-warni kemilau lampu yang menghiasi dan menerangi setiap lorong-lorong jalan, namun perayaan Natal 2023 ini dipenuhi oleh poster/billboard/baliho para calon presiden dan calon wakil rakyat dengan janji-janji politiknya.

Natal merupakan perayaan sukacita karena kasih Allah berkenan menjumpai seluruh ciptaan-Nya dalam peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Natal mengajak kita semua untuk masuk dalam karya penyelamatan Allah, karena lewat kelahiran Yesus akan memberi harapan.

Menurut Otto Gusti Madung, peristiwa Natal adalah momen memperingati kelahiran seorang bayi yang kehadiran-Nya ditolak negara. Umat Kristen dalam cahaya iman memandang-Nya sebagai putra Allah. Tapi, sejak awal kehadiran di tengah dunia, Yesus dianggap sebagai ancaman bagi para penguasa politik, ekonomi, dan agama.

”MTQ

Natal menurut Bapak Plurarisme Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa Gus Dur “Mestinya yang merayakan hari Natal bukan hanya umat Kristiani, melainkan juga seluruh umat manusia. Sebab, Yesus Kristus adalah Juruselamat seluruh umat manusia, bukan Juruselamat umat Kristiani saja” (Sambutan Gus Dur dalam perayaan Natal bersama di Balai Sidang Senayan Jakarta, 27 Desember 1999).

Momen Natal tahun ini adalah momen bersejarah dan bermakna bagi bangsa Indonesia. Bersejarah karena bersmaan dengan masa kampanye Pemilu 2024. Bermakna karena kelahiran Yesus memberi insprasi dan harapan yang besar bagi kita semua untuk terlibat dalam memilih calon pemimpin bangsa dan wakil rakyat yang bisa membawa kemajuan bagi bangsa dan daerah masing-masing.

Sebagaimana tema Natal 2023 oleh Persekutuan Gereja-Gejera Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bertemakan “Kemuliaan bagi Allah dan Damai Sejahtera di Bumi”, berdasarkan Lukas 2:14.

Tema ini bukan hanya sebuah narasi semata, tetapi sebuah panggilan untuk merenungkan dan menggambarkan esensi Natal itu sesungguhnya yang membawa pesan perdamaian, kegembiraan, sukacita, dan kebaikan kepada semua orang.

Seharusnya juga momen pesta demokrasi 2024 harus menjadi sebuah momen panggilan untuk merenung dan menggambarkan bahwa pesta demokrasi sesungguhnya itu yang membawa kegembiraan, sukacita dan kedamaian yang merekatkan persatuan dan kesatuan.